Blog
Apa itu Pengertian dari ilmu Tafsir Alquran dan Manfaatnya
Al-Qur’an adalah lautan ilmu yang tak bertepi. Setiap ayatnya mengandung makna mendalam yang menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia. Namun, karena ketinggian bahasa dan kedalaman maknanya, kita tidak cukup hanya membaca terjemahan untuk memahaminya secara instan. Di sinilah letak urgensi dari Tafsir Alquran.
Tanpa bekal ilmu tafsir, seseorang berpotensi tergelincir dalam pemahaman yang dangkal, bahkan keliru, saat menangkap pesan Allah SWT. Sejarah mencatat banyak penyimpangan terjadi akibat penafsiran ayat yang serampangan tanpa mengindahkan kaidah-kaidah keilmuan yang telah para ulama tetapkan.
Oleh karena itu, dalam artikel ini kami akan mengajak Anda menyelami dunia Tafsir Alquran. Kita akan membahas mulai dari pengertian, sejarah perkembangannya, metode-metode penafsiran yang diakui, hingga kitab-kitab rujukan utama yang menjadi pegangan umat Islam hingga hari ini.
Apa itu Pengertian Tafsir Alquran?
Secara bahasa (etimologi), kata “tafsir” berasal dari kata al-fasr yang berarti menyingkap, menjelaskan, atau menampakkan makna yang tersembunyi. Tafsir sendiri merupakan cabang terpenting dalam disiplin ilmu Ulumul Quran. Fokus utamanya adalah menggali kandungan makna di dalam ayat-ayat Al-Qur’an agar akal manusia dapat memahaminya.
Adapun secara istilah (terminologi), para ulama memiliki beberapa definisi yang saling melengkapi. Berikut adalah pengertian tafsir menurut para ahli:
1. Definisi Menurut Az-Zarkasyi
Imam Az-Zarkasyi dalam kitabnya Al-Burhan fi Ulumil Qur’an mendefinisikan tafsir sebagai ilmu untuk memahami kitabullah (Al-Qur’an) yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad SAW, menjelaskan makna-maknanya, serta menyimpulkan hukum-hukum dan hikmah yang terkandung di dalamnya.
2. Definisi Menurut Az-Zarqani
Syekh Az-Zarqani menjelaskan bahwa tafsir adalah ilmu yang membahas tentang Al-Qur’an Al-Karim dari segi penunjukan maknanya (dalalah) sesuai dengan apa yang Allah SWT kehendaki, sebatas kemampuan manusia.
3. Definisi Menurut Al-Jazairi
Syekh Abu Bakar Al-Jazairi menambahkan bahwa tafsir pada hakikatnya adalah menjelaskan lafaz-lafaz yang sukar, sehingga pesan wahyu menjadi terang dan jelas bagi siapa saja yang membacanya.
Dari pengertian para ahli di atas, kita bisa menyimpulkan bahwa tafsir Alquran merupakan jembatan penghubung antara teks wahyu yang suci dengan pemahaman manusia yang terbatas. Tujuannya satu: agar kita dapat mengamalkan pedoman hidup ini dengan benar.
Sejarah Awal Mula Keilmuan Tafsir Alquran
Keilmuan tafsir tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh beriringan dengan turunnya wahyu. Pada masa awal Islam, Rasulullah SAW adalah satu-satunya penafsir otoritatif (sumber utama). Kapan pun para sahabat merasa kesulitan memahami suatu ayat, mereka langsung bertanya kepada Nabi.
Rasulullah SAW menjelaskan makna ayat melalui ucapan, perbuatan, dan ketetapan beliau, yang kemudian kita kenal sebagai Hadis. Setelah Rasulullah wafat, tongkat estafet penafsiran beralih ke tangan para sahabat. Mereka menafsirkan Al-Qur’an berdasarkan apa yang mereka dengar dari Nabi, pemahaman bahasa Arab mereka yang masih murni, serta ijtihad mereka terhadap konteks turunnya ayat.
Beberapa sahabat yang terkenal sebagai ahli tafsir antara lain adalah Ibnu Abbas (bergelar Turjumanul Qur’an atau Penerjemah Al-Qur’an), Ibnu Mas’ud, Ali bin Abi Thalib, dan Ubay bin Ka’ab. Di masa ini, para sahabat belum membukukan tafsir secara khusus, sehingga ilmunya masih berupa riwayat lisan yang tersebar di kalangan murid-murid sahabat (Tabi’in).
Perkembangan dan Kodifikasi Tafsir
Seiring berjalannya waktu, wilayah kekuasaan Islam meluas hingga keluar Jazirah Arab. Orang-orang Arab mulai bercampur dengan bangsa Ajam (non-Arab). Akibatnya, kemampuan bahasa Arab murni mulai melemah, dan banyak umat Islam yang kesulitan memahami gaya bahasa Al-Qur’an yang tinggi.
Kondisi ini mendorong para ulama di era Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in untuk mulai membukukan tafsir. Awalnya, ulama menyusun tafsir sebagai bagian dari bab dalam kitab Hadis. Namun, pada perkembangannya, tafsir menjadi disiplin ilmu yang berdiri sendiri dengan metodologi yang sistematis. Proses ini berjalan paralel dengan penulisan sejarah Alquran dan kodifikasi ilmu-ilmu Islam lainnya.
Mengenal Metode Penafsiran Alquran
Dalam menafsirkan Al-Qur’an, para ulama tidak menggunakan satu cara saja. Terdapat dua metode utama yang wajib kita ketahui agar bisa memilah mana tafsir yang muktabar (diakui) dan mana yang menyimpang:
1. Tafsir bil Ma’tsur (Tafsir Riwayah)
Ini adalah metode penafsiran yang paling otentik dan tinggi kedudukannya. Mufassir (ahli tafsir) menafsirkan Al-Qur’an dengan merujuk pada:
- Penafsiran ayat Al-Qur’an dengan ayat Al-Qur’an lainnya.
- Penafsiran ayat dengan Hadis Nabi SAW.
- Penafsiran ayat dengan perkataan para Sahabat (Atsar).
Contoh kitab tafsir yang menggunakan metode ini adalah Tafsir Ibnu Katsir dan Tafsir Ath-Thabari.
2. Tafsir bir Ra’yi (Tafsir Dirayah)
Metode ini menggunakan ijtihad atau penalaran akal (nalar) dengan bantuan ilmu-ilmu bahasa Arab dan kaidah syariat. Para ulama memperbolehkan metode ini selama mufassir memiliki kompetensi keilmuan yang mumpuni dan tidak bertentangan dengan dalil syar’i. Namun, jika seseorang melakukan penafsiran akal secara serampangan tanpa dasar ilmu, maka kita menyebutnya sebagai tafsir tercela yang dilarang.
Syarat Menjadi Mufassir (Ahli Tafsir)
Tidak sembarang orang boleh menafsirkan Al-Qur’an. Para ulama menetapkan syarat ketat bagi seorang mufassir, di antaranya:
- Aqidah yang Lurus: Memiliki keyakinan yang benar sesuai Ahlussunnah wal Jamaah agar tidak membelokkan makna ayat demi kepentingan golongannya.
- Menguasai Bahasa Arab: Memahami Nahwu, Sharaf, Balaghah, dan sastra Arab secara mendalam, karena Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab yang fasih.
- Menguasai Ulumul Quran: Paham tentang Asbabun Nuzul, Nasikh Mansukh, dan Qiraat.
- Memahami Ilmu Pendukung: Seperti Usul Fiqih, Hadis, dan Sejarah Islam.
3 Kitab Tafsir Alquran yang Menjadi Rujukan Utama
Bagi Anda yang ingin mendalami makna Al-Qur’an, berikut adalah tiga kitab tafsir legendaris yang menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia:
1. Tafsir Ath-Thabari (Jami’ul Bayan)
Umat Islam sering menyebut karya Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari ini sebagai “bapaknya kitab tafsir”. Terdiri dari belasan jilid, kitab ini menempati posisi sebagai tafsir tertua dan terlengkap yang menggunakan metode bil ma’tsur. Analisanya sangat tajam dengan sanad periwayatan yang jelas.
2. Tafsir Ibnu Katsir
Banyak ulama mengatakan ini sebagai salah satu kitab tafsir terbaik dan paling populer di kalangan penuntut ilmu. Tafsir karya Ibnu Katsir ini sangat teliti dalam menafsirkan ayat dengan ayat dan ayat dengan hadis. Kitab ini menjadi standar kurikulum di banyak pesantren dan lembaga pendidikan Islam.
3. Tafsir Al-Qurtubi (Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an)
Berbeda dengan dua sebelumnya, kitab karya Imam Al-Qurtubi ini lebih menitikberatkan pada penafsiran ayat-ayat hukum (fiqih). Beliau membahas permasalahan fiqih secara mendetail, membandingkan pendapat mazhab, dan tidak segan melakukan riset bahasa yang mendalam.
Apa Saja Manfaat Mempelajari Tafsir?
Mempelajari tafsir bukan hanya tugas para ulama, tetapi setiap Muslim membutuhkannya sesuai kadar kemampuan masing-masing. Berikut adalah manfaat besarnya:
- Memahami Pesan Ilahi secara Utuh: Kita dapat mengetahui perintah, larangan, dan kisah-kisah umat terdahulu dengan konteks yang benar.
- Mengamalkan Islam dengan Benar: Menjauhkan kita dari praktik ibadah yang salah kaprah atau ekstrem karena salah tafsir.
- Meningkatkan Kualitas Tadabbur: Membaca Al-Qur’an dengan mengetahui maknanya akan terasa jauh lebih menyentuh hati dibandingkan sekadar membaca lafaznya saja.
- Menumbuhkan Kehati-hatian: Mengetahui batasan hukum Allah membuat kita lebih waspada dalam bertindak.
Pentingnya Memiliki Panduan yang Benar
Mempelajari Tafsir Alquran adalah perjalanan seumur hidup untuk menyelami samudra hikmah Allah. Dengan berpegang pada metode yang benar dan merujuk pada kitab-kitab yang mu’tabar, insya Allah kita akan selamat dari pemahaman yang menyimpang. Ilmu tafsir adalah pelita yang menerangi jalan kita dalam mengamalkan isi Al-Qur’an.
Untuk mendukung semangat Anda dan keluarga dalam mempelajari Al-Qur’an, memiliki mushaf yang nyaman dibaca dan terjemahan yang jelas adalah kebutuhan dasar. Gemarisalah menyediakan berbagai jenis mushaf berkualitas, mulai dari mushaf hafalan hingga mushaf dengan tajwid warna dan terjemahan.
Jika Anda memiliki niat mulia untuk mewakafkan Al-Qur’an ke masjid, pesantren, atau majelis taklim, kami siap membantu Anda. Sebagai jasa percetakan Alquran terpercaya, Gema Risalah melayani pemesanan cetak Al-Qur’an custom dengan kualitas terbaik untuk menjadi amal jariyah Anda.




