Wawasan Al-Qur'an

Panduan Lengkap Ilmu Tajwid Alquran: Hukum Bacaan dan Cara Membacanya

Membaca Al-Qur’an sejatinya bukan sekadar mengeja huruf-huruf Arab, melainkan sebuah ibadah agung yang memiliki aturan main tersendiri. Aturan khusus inilah yang kemudian kita kenal dengan istilah Tajwid Alquran. Bahkan, Allah SWT secara tegas memerintahkan kita untuk membaca kitab suci ini dengan tartil (perlahan dan benar), sebagaimana firman-Nya yang tercantum dalam Surah Al-Muzzammil ayat 4.

Bagi setiap Muslim, mempelajari teori ilmu tajwid hukumnya adalah fardhu kifayah (kewajiban kolektif). Akan tetapi, praktik membaca Al-Qur’an dengan menggunakan kaidah tajwid hukumnya adalah fardhu ‘ain (kewajiban individu). Oleh karena itu, kita akan berdosa jika sengaja membaca Al-Qur’an secara asal-asalan tanpa mau berusaha memperbaiki kualitas bacaan.

Dalam artikel ini, Gemarisalah akan mengulas panduan lengkap ilmu tajwid, mulai dari pengertian, hukum Nun Mati, Mim Mati, hingga kaidah Mad dan Qalqalah. Mari kita pelajari bersama langkah demi langkah agar lisan kita terjaga dari kesalahan fatal saat melantunkan ayat-ayat Allah.

Apa Itu Ilmu Tajwid Alquran?

Secara bahasa, tajwid memiliki arti “memperindah” atau “membaguskan”. Sementara itu, menurut istilah dalam Ulumul Quran, tajwid didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari cara membunyikan atau mengucapkan huruf-huruf yang terdapat dalam kitab suci Al-Qur’an dengan tepat.

Tujuan utama mempelajari ilmu ini adalah untuk memberikan hak-hak setiap huruf, baik dari segi makhraj (tempat keluarnya huruf) maupun sifat-sifat aslinya. Dengan menguasai tajwid, kita dapat menghindari Lahn (kesalahan) dalam membaca. Pasalnya, kesalahan kecil dalam pengucapan bisa berakibat fatal pada perubahan makna ayat.

1. Hukum Nun Mati dan Tanwin

hukum nun mati dan tanwin tajwid alquran

Pertama, mari kita bahas hukum yang paling dasar dan sering muncul, yaitu hukum Nun Sukun (نْ) atau Tanwin (ـً ـٍ ـٌ). Secara umum, hukum ini terbagi menjadi lima jenis bacaan yang wajib Anda pahami:

a. Idzhar Halqi (Jelas)

Anda harus membaca Nun mati atau tanwin dengan jelas dan terang apabila bertemu dengan salah satu dari enam huruf tenggorokan (Halqi). Huruf-huruf tersebut meliputi: Alif (ا), Ha (ح), Kha (خ), ‘Ain (ع), Ghain (غ), dan Ha (ه).

Contoh: Min ‘ilmin (Nun mati bertemu ‘Ain).

b. Idgham Bighunnah (Melebur dengan Dengung)

Selanjutnya adalah Idgham Bighunnah, yang terjadi apabila Nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf Ya (ي), Nun (ن), Mim (م), atau Wawu (و). Teknik membacanya adalah dengan meleburkan suara Nun ke huruf depannya sembari menahan dengungan (ghunnah) sekitar 2 harakat.

c. Idgham Bilaghunnah (Melebur Tanpa Dengung)

Berbeda dengan sebelumnya, hukum ini terjadi jika Nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf Lam (ل) atau Ra (ر). Di sini, cara melafalkannya adalah meleburkan suara Nun ke huruf tersebut tanpa disertai dengungan sedikit pun.

d. Iqlab (Mengganti)

Kemudian, ada hukum Iqlab yang berlaku jika Nun mati atau tanwin bertemu dengan huruf Ba (ب). Dalam kondisi ini, suara Nun mati berubah menjadi suara Mim (م) yang samar serta disertai dengan dengungan.

e. Ikhfa Haqiqi (Samar)

Terakhir, apabila Nun mati atau tanwin bertemu dengan 15 huruf hijaiyah selain huruf-huruf di atas (seperti Ta, Tsa, Jim, Dal, dll), maka terjadilah Ikhfa. Anda wajib menyamarkan bunyi Nun mati di antara Idzhar dan Idgham, lalu iringi dengan dengungan.

2. Hukum Mim Mati

hukum mim mati tajwid alquran

Selain Nun mati, hukum lain yang tak kalah penting berkaitan dengan Mim Sukun (مْ). Apabila Mim mati bertemu dengan huruf hijaiyah lainnya, maka akan berlaku tiga macam hukum berikut:

a. Ikhfa Syafawi

Kasus ini terjadi apabila Mim mati bertemu dengan huruf Ba (ب). Adapun cara membacanya adalah dengan menyamarkan bunyi Mim di bibir (syafawi) disertai dengungan. Pastikan bibir Anda tidak terlalu rapat, namun juga tidak terbuka lebar.

b. Idgham Mimi (Idgham Mitslain)

Sementara itu, jika Mim mati bertemu dengan huruf Mim (م) yang sama, maka hukumnya adalah Idgham Mimi. Cara bacanya cukup dengan meleburkan Mim pertama ke Mim kedua disertai dengungan (ghunnah) yang sempurna.

c. Idzhar Syafawi

Hukum yang ketiga ini berlaku apabila Mim mati bertemu dengan semua huruf hijaiyah SELAIN huruf Mim (م) dan Ba (ب). Ingat, cara membacanya harus jelas, terang, dan tidak boleh mendengung, terutama saat bertemu huruf Wawu (و) dan Fa (ف) agar tidak tertukar dengan Ikhfa.

3. Hukum Bacaan Qalqalah (Memantul)

Di sisi lain, salah satu ciri khas bacaan Al-Qur’an adalah adanya pantulan suara pada huruf-huruf tertentu. Huruf Qalqalah sendiri ada lima, yang biasa disingkat “Ba-Ju-Di-Tho-Ko” (ب ج د ط ق). Qalqalah terbagi menjadi dua jenis:

  • Qalqalah Sugra (Kecil): Terjadi jika huruf qalqalah berharakat sukun (mati) asli di tengah kata. Pantulannya terdengar tipis atau kecil.
  • Qalqalah Kubra (Besar): Sebaliknya, ini terjadi jika huruf qalqalah dimatikan karena waqaf (berhenti) di akhir kalimat. Pantulannya harus lebih kuat dan jelas.

4. Hukum Bacaan Idgham (Lainnya)

macam macam idgham

Selain Idgham pada Nun Mati, terdapat pula jenis Idgham lain yang mempertemukan dua huruf berdasarkan kedekatan makhraj dan sifatnya. Berikut rinciannya:

  • Idgham Mutamatsilain: Kondisi ini terjadi ketika ada pertemuan dua huruf yang sama persis makhraj dan sifatnya (Contoh: Dal bertemu Dal).
  • Idgham Mutajanisain: Jenis ini berlaku saat dua huruf yang bertemu memiliki makhraj sama, tetapi sifatnya berbeda (Contoh: Ta bertemu Tho).
  • Idgham Mutaqaribain: Terakhir, hukum ini muncul akibat pertemuan dua huruf yang berdekatan, baik dari segi makhraj maupun sifatnya (Contoh: Lam bertemu Ra).

5. Hukum Bacaan Mad (Panjang)

Mad artinya memanjangkan suara. Bagian ini sangat krusial dalam tajwid karena kesalahan dalam memanjangkan atau memendekkan bacaan bisa merusak arti ayat secara fatal. Secara garis besar, Mad terbagi dua:

a. Mad Thabi’i (Mad Asli)

Ini adalah hukum dasar memanjangkan bacaan 2 harakat (ketukan). Mad Thabi’i terjadi jika:

– Alif (ا) jatuh setelah Fathah.

– Ya Sukun (يْ) jatuh setelah Kasrah.

– Wawu Sukun (وْ) jatuh setelah Dhammah.

b. Mad Far’i (Cabang)

Selanjutnya adalah Mad Far’i, yang merupakan pengembangan dari Mad Thabi’i karena bertemu dengan Hamzah atau Sukun. Jenisnya sangat banyak, namun yang paling umum di antaranya:

  • Mad Wajib Muttashil: Yakni Mad Thabi’i bertemu Hamzah dalam satu kata (Wajib 4-5 harakat).
  • Mad Jaiz Munfashil: Terjadi saat Mad Thabi’i bertemu Hamzah di lain kata (Boleh 2, 4, atau 5 harakat).
  • Mad Aridh Lissukun: Mad yang muncul karena waqaf (berhenti) di akhir ayat.
  • Mad Iwad: Mad yang terjadi pada posisi waqaf di akhir kalimat yang berbaris tanwin fathah.

6. Tanda Waqaf (Berhenti)

Selain cara membunyikan huruf, tajwid juga mengatur kapan kita harus berhenti (Waqaf) dan kapan boleh lanjut (Washal). Anda bisa mempelajari detail mengenai tanda-tanda ini dalam artikel kami tentang 14 jenis tanda wakaf dalam Alquran yang wajib diketahui.

Pentingnya Guru dalam Belajar Tajwid

Mempelajari teori tajwid melalui artikel ini memang langkah awal yang sangat baik. Namun, perlu Anda ingat bahwa Al-Qur’an adalah ilmu yang dipelajari secara talaqqi (berhadapan langsung dengan guru). Oleh sebab itu, kami sangat menyarankan Anda untuk menyetorkan bacaan kepada guru ngaji atau ustadz yang kompeten agar beliau dapat mengoreksi makhraj Anda secara langsung.

Guna menunjang proses belajar Anda, penggunaan mushaf yang tepat sangatlah membantu. Al-Qur’an dengan fitur Tajwid Warna, misalnya, sangat efektif untuk membantu pemula mengenali hukum-hukum bacaan secara visual.

Gemarisalah Press menyediakan berbagai varian mushaf terbaik, mulai dari Al-Qur’an tajwid warna, Al-Qur’an hafalan, hingga Al-Qur’an terjemah perkata. Jika Anda membutuhkan jasa percetakan Alquran untuk kebutuhan wakaf, sekolah, atau komunitas pengajian, kami siap melayani Anda dengan kualitas cetakan premium dan harga bersaing.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *