Wawasan Umum

Perbedaan dan Persamaan Muhammadyah dan Nahdatul Ulama

Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU) sejatinya ibarat dua pilar raksasa. Keduanya berdiri kokoh menopang atap keislaman dan kebangsaan di Indonesia. Bahkan, keduanya hadir bukan untuk saling menjatuhkan satu sama lain. Sebaliknya, mereka adalah “Dua Sayap Garuda” yang bersinergi menerbangkan bangsa ini menuju kemajuan yang lebih tinggi.

Perlu kita ingat bahwa organisasi ini didirikan dengan tujuan luhur yang serupa. Mereka sama-sama ingin meninggikan kalimat Allah (Izzul Islam wal Muslimin). Selain itu, mereka juga bertekad kuat untuk memajukan kesejahteraan umat secara menyeluruh. Oleh karena itu, tidak heran jika kedua organisasi ini telah memberikan sumbangsih yang tak ternilai bagi perjalanan sejarah Republik Indonesia.

Meskipun demikian, dalam kehidupan bermasyarakat, kita sering menjumpai perbedaan praktik ibadah. Perbedaan ini kerap terjadi antara pengikut kedua organisasi besar ini di level akar rumput. Namun, memahami perbedaan dan persamaan Muhammadiyah dan NU bukan lagi soal mencari siapa yang paling benar. Hal ini seharusnya menjadi wawasan yang memperkaya rasa toleransi (tasamuh) kita.

Selanjutnya, kita perlu memahami akar perbedaan tersebut secara mendalam. Dengan begitu, kita akan semakin dewasa dalam menyikapi keragaman yang ada. Akibatnya, kita bisa memperkuat ikatan persaudaraan (ukhuwah). Artikel ini akan mengupas secara tuntas dinamika hubungan kedua ormas terbesar ini.

Akar Sejarah dan Latar Belakang Berdiri

sejarah muhammadiyah dan nu

Pada dasarnya, perbedaan karakteristik antara Muhammadiyah dan NU tidak lepas dari konteks sejarah. Respon sosial saat itu juga turut melatarbelakangi kelahiran mereka. Menariknya, pendiri keduanya, yakni K.H. Ahmad Dahlan dan K.H. Hasyim Asy’ari, adalah sahabat seperguruan yang akrab.

Mereka berdua sama-sama berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi di Mekkah. Namun, sepulangnya ke tanah air, mereka memilih jalan dakwah yang berbeda. Pilihan strategis ini mereka ambil semata-mata untuk menyesuaikan dengan kebutuhan zaman dan kondisi masyarakat saat itu.

Kelahiran Muhammadiyah (1912)

Pertama, Muhammadiyah lahir lebih dahulu pada tahun 1912 di Yogyakarta. Organisasi ini muncul sebagai respons cerdas K.H. Ahmad Dahlan terhadap kondisi umat Islam kala itu. Saat itu, kondisi umat dinilai jumud (beku) dan tertinggal. Selain itu, praktik keagamaan juga bercampur dengan TBC (Takhayul, Bid’ah, Churafat).

Anda bisa mempelajari lebih lanjut mengenai hal ini dalam artikel Sejarah Muhammadiyah. Oleh sebab itu, fokus utama gerakannya adalah pemurnian akidah (purifikasi). Di sisi lain, mereka juga fokus pada modernisasi pendidikan agar umat Islam tidak tertinggal dari bangsa kolonial Belanda.

Kelahiran Nahdlatul Ulama (1926)

Di sisi lain, Nahdlatul Ulama (NU) berdiri belakangan pada tahun 1926 di Surabaya. Kelahiran NU merupakan respons para ulama pesantren terhadap situasi global. Mereka merespon runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani yang menjadi payung umat Islam.

Selain itu, maraknya gerakan Wahabisme di Hijaz yang keras juga menjadi pemicu utama. Gerakan tersebut dianggap mengancam tradisi bermadzhab yang sudah mapan. Oleh karena itu, K.H. Hasyim Asy’ari berinisiatif mendirikan NU. Tujuannya adalah melestarikan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah yang mengakomodasi kearifan lokal (local wisdom) serta berpegang teguh pada madzhab fiqih.

Perbedaan Mendasar dalam Amalan Fiqih (Furu’iyah)

perbedaan amalan nu dan muhammadiyah

Perbedaan yang paling sering kita saksikan di lapangan biasanya hanya menyangkut masalah cabang agama (furu’iyah). Ini jelas bukan masalah pokok (ushuliyah). Perbedaan ini muncul karena adanya perbedaan metodologi pengambilan hukum (istinbath).

Muhammadiyah menggunakan Manhaj Tarjih. Mereka langsung merujuk Al-Qur’an dan Sunnah yang maqbullah. Sedangkan NU menggunakan metode Bahtsul Masail. Mereka lebih banyak merujuk pada kitab-kitab kuning (turats) dari ulama Madzhab Syafi’i. Berikut adalah beberapa perbedaan praktis yang sering muncul:

1. Praktik Doa Qunut Subuh

Warga NU (Nahdliyin) umumnya mengamalkan doa Qunut pada shalat Subuh. Hal ini karena mereka mengikuti pendapat Madzhab Syafi’i yang menghukuminya sunnah muakkad. Sebaliknya, warga Muhammadiyah cenderung tidak membaca Qunut Subuh. Alasannya, mereka memegang hadits lain yang menyatakan bahwa Rasulullah SAW hanya melakukan Qunut Nazilah dan kemudian meninggalkannya.

2. Jumlah Rakaat Shalat Tarawih

Kemudian, pada bulan Ramadhan, masjid-masjid NU umumnya melaksanakan shalat Tarawih sebanyak 23 rakaat. Jumlah ini terdiri dari 20 rakaat Tarawih dan 3 rakaat Witir. Praktik ini mengikuti tradisi sahabat Umar bin Khattab. Sementara itu, masjid Muhammadiyah secara konsisten melaksanakan 11 rakaat. Pilihan ini merujuk pada hadits Aisyah RA mengenai kebiasaan shalat malam Rasulullah.

3. Tradisi Tahlilan dan Yasinan

Selanjutnya, NU sangat kental dengan tradisi Tahlilan. Mereka mendoakan orang meninggal pada hari ke-7, 40, 100, dan seterusnya. Bagi NU, budaya ini adalah sarana dakwah kultural yang efektif. Adapun Muhammadiyah memiliki pandangan berbeda dengan semangat pemurniannya. Mereka memandang bahwa tradisi spesifik penentuan hari tersebut tidak memiliki dalil kuat. Sehingga, mereka lebih menganjurkan mendoakan jenazah secara langsung tanpa seremoni khusus.

4. Penentuan Awal Bulan Hijriah

Terakhir, inilah yang sering menyebabkan perbedaan Hari Raya. Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal (perhitungan astronomis murni). Metode ini bisa menentukan tanggal jauh hari sebelumnya. Sedangkan NU menggunakan metode Rukyatul Hilal (melihat bulan langsung). NU mengombinasikannya dengan hisab imkanur rukyat. Akibatnya, penetapan tanggal baru bisa dipastikan pada malam harinya setelah sidang isbat.

Konsep Gerakan: Islam Berkemajuan vs Islam Nusantara

logo muhammadiyah dan nu

Selain perbedaan fiqih, kedua organisasi ini juga memiliki ciri khas dalam wajah pergerakannya. Branding gerakan ini justru memperkaya khazanah Islam Indonesia:

Ciri Khas Muhammadiyah

Muhammadiyah secara konsisten mengusung konsep Islam Berkemajuan. Mereka menekankan pada rasionalitas, modernitas, dan etos kerja tinggi. Gerakannya sangat menonjol dalam pembangunan amal usaha. Contoh nyatanya adalah ribuan sekolah, universitas, dan rumah sakit. Ciri khas utamanya adalah disiplin organisasi dan manajemen modern. Mereka bersemangat membawa Islam yang adaptif terhadap perkembangan sains dan teknologi.

Ciri Khas Nahdlatul Ulama

Di sisi lain, NU mengusung konsep Islam Nusantara. Mereka menekankan pada keramahan budaya, spiritualitas, dan kearifan lokal. NU berdakwah dengan cara merangkul budaya setempat tanpa menghilangkannya. Tentu saja, hal ini dilakukan selama tidak bertentangan dengan syariat. Ciri khasnya adalah struktur kepemimpinan kyai-santri yang kharismatik. Selain itu, mereka juga memiliki basis pesantren salafiyah yang sangat kuat di pedesaan.

Persamaan Fundamental Penjaga NKRI

Meskipun memiliki perbedaan metode, persamaan antara Muhammadiyah dan NU jauh lebih besar. Persamaan inilah yang menjadi modal sosial terbesar bangsa Indonesia. Berikut adalah rincian titik temu keduanya:

Kesamaan Sumber Hukum

Pertama-tama, keduanya sama-sama beriman kepada Allah SWT. Mereka juga meyakini kenabian Muhammad SAW. Lebih dari itu, mereka menjadikan Al-Qur’an serta Hadits sebagai sumber hukum utama. Jadi, akidah keduanya adalah Islam yang satu.

Komitmen Kebangsaan (Hubbul Wathan)

Kedua, baik NU maupun Muhammadiyah sepakat bahwa NKRI adalah bentuk negara final. Muhammadiyah menyebutnya Darul Ahdi wa Syahadah (Negara Kesepakatan dan Kesaksian). Sementara itu, NU menegaskan jargon Hubbul Wathan Minal Iman (Cinta Tanah Air sebagian dari Iman).

Sikap Moderat (Wasathiyah)

Ketiga, kedua ormas ini adalah benteng utama umat. Mereka menghalau paham radikalisme dan ekstremisme di Indonesia. Keduanya mengembangkan pemahaman Islam yang moderat, toleran, dan damai (rahmatan lil alamin).

Semangat Pendidikan

Terakhir, keduanya berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Tujuannya adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Muhammadiyah unggul dengan sekolah modernnya. Sedangkan NU unggul dengan jaringan pesantrennya yang luas.

Sinergi untuk Kemajuan Umat

tokoh muhammadiyah dan nu

Pada hakikatnya, NU dan Muhammadiyah adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya. Bayangkan jika kedua potensi ini bersinergi dengan maksimal. Muhammadiyah memiliki manajemen modern yang rapi. Sementara NU memiliki basis massa yang solid dan loyal. Gabungan keduanya tentu mampu menggerakkan ekonomi umat dan kemandirian bangsa.

Oleh karena itu, kita perlu terus mendorong titik temu ini. Perbedaan amalan seperti Qunut atau Tarawih hanyalah pilihan fiqih semata. Keduanya sama-sama memiliki landasan dalil (mu’tabar). Sikap terbaik bagi kita adalah saling menghormati. Warga Muhammadiyah menghormati tradisi Tahlil saudaranya di NU. Begitu juga sebaliknya. Inilah esensi dari Bhinneka Tunggal Ika dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.

Mengapa Memilih Produk Kami?

Terlepas dari perbedaan organisasi, kebutuhan umat Islam terhadap kitab suci Al-Qur’an adalah sama. Baik warga Muhammadiyah maupun Nahdliyin, semuanya membutuhkan mushaf berkualitas. Mushaf tersebut harus valid, awet, dan nyaman dibaca. Gema Risalah hadir untuk memenuhi kebutuhan tersebut dengan profesional.

Kami sangat memahami karakteristik kebutuhan kedua komunitas besar ini, sehingga kami menyediakan solusi yang tepat:

Solusi Untuk Sekolah Muhammadiyah

Bagi sekolah-sekolah modern, kami menyediakan Al-Qur’an terjemahan per kata dan tajwid warna. Fitur ini sangat mendukung pembelajaran sistematis di kelas-kelas. Sehingga, siswa dapat memahami arti perkata dengan lebih mudah dan cepat.

Solusi Untuk Pesantren NU

Sementara bagi kalangan pesantren, kami menyediakan mushaf rasm utsmani standar (pojok). Mushaf jenis ini biasa digunakan untuk hafalan dan metode sorogan para santri di pesantren salaf. Kami sangat memperhatikan ketepatan rasm dan kenyamanan mata.

Sebagai penerbit Al-Quran terpercaya, kami melayani pengiriman ke seluruh Indonesia. Gema Risalah siap menjadi mitra pengadaan mushaf untuk wakaf, sekolah, maupun pesantren. Mari kita kesampingkan perbedaan. Mari bersatu dalam membumikan Al-Qur’an di bumi pertiwi. Hubungi kami sekarang juga untuk mendapatkan penawaran terbaik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *