Wawasan Umum

Definisi Hadist dan Tingkatannya

Definisi Hadist dan Tingkatannya

Dalam mempelajari agama Islam, kita tentu tidak bisa hanya bersandar pada Al-Qur’an saja. Sebaliknya, kita juga wajib memahami pengertian hadist dan tingkatannya sebagai sumber hukum kedua setelah Al-Qur’an. Faktanya, hadis berfungsi untuk memperjelas, merinci, dan melengkapi apa yang telah Allah tetapkan secara global dalam kitab suci. Sebagai contoh, perintah shalat ada di Al-Qur’an, namun kita baru menemukan tata cara (kaifiyat) shalat secara detail dalam hadis. Oleh karena itu, pengetahuan tentang hadis merupakan wawasan fundamental yang harus umat Muslim kuasai agar amalan ibadah kita sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW.

Sayangnya, hingga saat ini masih banyak masyarakat yang belum bisa membedakan mana hadis yang valid sebagai landasan hukum (hujjah) dan mana yang tertolak (palsu). Akibatnya, pemahaman agama menjadi kurang sempurna. Maka dari itu, artikel ini akan mengupas tuntas definisi, struktur, hingga klasifikasi hadis agar Anda memiliki pemahaman yang kokoh.

Definisi Hadis Secara Lengkap dan Komprehensif

Apa Definisi Hadis secara Lengkap yang Perlu Kamu Ketahui

Secara etimologi (bahasa), hadis berarti al-jadid (sesuatu yang baru) atau al-khabar (berita/perkataan). Adapun secara terminologi (istilah syar’i), hadis adalah segala sesuatu yang narasumber sandarkan kepada Nabi Muhammad SAW. Cakupannya sangat luas, baik berupa perkataan (qauliyah), perbuatan (fi’liyah), ketetapan/persetujuan (taqririyah), maupun sifat-sifat beliau (jasmani dan akhlak), baik sebelum maupun sesudah beliau menerima wahyu.

Selanjutnya, para ulama sering menyamakan hadis dengan Sunnah. Kendati demikian, sebagian ulama ushul fiqih membedakannya secara spesifik. Sunnah lebih merujuk pada amalan yang menjadi hukum syariat, sedangkan hadis adalah riwayat yang menyampaikannya. Intinya, hadis menjadi warisan intelektual dan spiritual Nabi Muhammad yang menuntun kita menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Struktur Anatomi Sebuah Hadis

Apa Saja Struktur yang Harus Ada Dalam Hadis

Kita baru bisa menyebut sebuah riwayat sebagai hadis jika memenuhi dua rukun atau komponen utama. Tanpa salah satunya, kita tidak bisa memvalidasi keaslian riwayat tersebut. Kedua komponen tersebut adalah:

1. Sanad (Rantai Periwayat)

Secara sederhana, sanad adalah rantai para penutur/perawi yang menyampaikan matan hadis dari satu orang ke orang berikutnya hingga sampai kepada kita. Umumnya, sanad bermula dari Mukharrij (pencatat hadis seperti Imam Bukhari) dan berakhir pada Rasulullah SAW.

Contoh urutan sanad: Imam Bukhari -> dari Abdullah bin Yusuf -> dari Malik -> dari Nafi’ -> dari Ibnu Umar -> dari Rasulullah SAW.

Oleh sebab itu, para ulama hadis sangat teliti memeriksa biografi setiap orang dalam rantai ini. Mereka meneliti secara mendalam apakah perawi tersebut jujur, kuat hafalannya, dan pernah bertemu dengan perawi sebelumnya. Inilah yang kemudian kita kenal sebagai ilmu Jarh wa Ta’dil.

2. Matan (Isi Redaksi)

Di sisi lain, matan adalah materi berita atau redaksi kalimat yang terletak di ujung sanad. Sederhananya, matan adalah “isi pesan” yang Nabi sampaikan. Dalam meneliti matan, ulama memeriksa apakah isinya bertentangan dengan Al-Qur’an, akal sehat, atau fakta sejarah yang pasti. Jika ternyata bertentangan, maka ulama akan menolak hadis tersebut meskipun sanadnya terlihat bagus.

Klasifikasi Tingkatan Hadis Berdasarkan Kualitasnya

Bagaimana Tingkatan Hadis dan Klasifikasinya

Perlu Anda ketahui, tidak semua hadis yang beredar di masyarakat itu valid. Berdasarkan kualitas sanad dan matannya, para ulama membagi hadis menjadi empat tingkatan utama. Anda wajib mengetahui klasifikasi ini agar tidak terjebak mengamalkan hadis palsu.

1. Hadis Sahih (Valid & Otentik)

Ini adalah tingkatan tertinggi atau sering disebut kasta emas. Sebuah hadis baru bisa mencapai status sahih jika memenuhi lima syarat ketat:

  • Sanad Bersambung: Tiap perawi benar-benar bertemu dan menerima dari perawi sebelumnya.
  • Perawi Adil: Perawi harus Muslim, baligh, berakal, dan tidak fasik (taat beragama).
  • Perawi Dhabit: Memiliki hafalan yang sangat kuat dan sempurna.
  • Tidak Syadz: Tidak bertentangan dengan riwayat orang yang lebih terpercaya.
  • Tidak Ada ‘Illat: Tidak ada cacat tersembunyi yang merusak kualitas hadis.

Sebagai referensi, contoh kitab yang memuat hadis sahih adalah Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.

2. Hadis Hasan (Baik)

Selanjutnya, ada Hadis Hasan yang posisinya hampir sama dengan hadis Sahih. Bedanya hanya terletak pada tingkat hafalan perawinya. Pada hadis Hasan, ulama menilai hafalan perawi “sedang” (tidak sekuat perawi hadis Sahih), namun tetap jujur dan adil. Meskipun demikian, kita tetap sah menjadikan Hadis Hasan sebagai landasan hukum dalam ibadah.

Secara umum, terdapat dua jenis: Hasan Li Dzatigi (hasan dengan sendirinya) dan Hasan Li Ghairihi (menjadi hasan karena riwayat lain mendukungnya).

3. Hadis Dhaif (Lemah)

Sebaliknya, Hadis Dhaif adalah hadis yang kehilangan satu atau lebih syarat hadis Hasan/Sahih. Penyebabnya bisa beragam, misalnya karena sanadnya terputus, perawinya pendusta, atau hafalannya buruk. Akibatnya, kita tidak bisa menjadikan Hadis Dhaif sebagai landasan hukum halal-haram atau akidah. Namun, sebagian ulama memperbolehkan kita menggunakannya hanya untuk motivasi amal (Fadhail Amal) dengan syarat tidak terlalu lemah.

4. Hadis Maudhu’ (Palsu)

Terakhir, ini adalah tingkatan terburuk. Hadis Maudhu’ sebenarnya bukan hadis, melainkan kebohongan yang seseorang buat lalu ia atasnamakan kepada Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, kita haram menyebarkan hadis ini kecuali untuk menjelaskan kepalsuannya.

Klasifikasi Hadis Berdasarkan Jumlah Penutur

Klasifikasi dan Penggolongan Hadis Berdasarkan Jumlah Penutur

Selain kualitas, para ulama juga mengklasifikasikan hadis berdasarkan berapa banyak orang yang meriwayatkannya di setiap tingkatan generasi (Thabaqat):

1. Hadis Mutawatir

Sekelompok orang banyak meriwayatkan Hadis Mutawatir pada setiap tingkatan sanad. Logikanya, mustahil mereka bersepakat untuk berdusta dengan jumlah sebanyak itu. Contohnya adalah hadis tentang cara wudhu atau jumlah rakaat shalat. Hadis ini memberikan keyakinan ilmu yang pasti (Yaqin) dan kita wajib mengimaninya.

2. Hadis Ahad

Di sisi lain, jumlah perawi Hadis Ahad tidak mencapai derajat Mutawatir (bisa satu, dua, atau tiga orang saja). Faktanya, sebagian besar hadis yang ada di buku-buku adalah hadis Ahad. Hadis Ahad terbagi lagi menjadi:

  • Gharib: Satu orang perawi meriwayatkannya di salah satu tingkatan sanad.
  • Aziz: Minimal dua orang perawi meriwayatkannya.
  • Masyhur: Tiga orang atau lebih meriwayatkannya, namun belum mencapai derajat Mutawatir.

Sejarah Singkat Kodifikasi (Pembukuan) Hadis

Kisah dan Sejarah Penyusunan Hadis

Perjalanan hadis hingga sampai ke tangan kita melalui proses panjang yang penuh perjuangan. Berikut adalah fase-fase pentingnya:

Era Nabi dan Sahabat (Hafalan)

Pada masa Nabi, beliau sempat melarang penulisan hadis karena khawatir tercampur dengan ayat Al-Qur’an. Maka dari itu, para sahabat lebih mengandalkan kekuatan hafalan mereka. Namun, beberapa sahabat seperti Abdullah bin Amr bin Ash memiliki catatan pribadi.

Era Tabiin (Kodifikasi Resmi)

Selanjutnya, pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (Abad 1 H), beliau memerintahkan Gubernur Madinah untuk mulai membukukan hadis secara resmi. Beliau melakukan hal ini karena kekhawatiran akan hilangnya hadis seiring banyaknya ulama penghafal hadis yang wafat dalam peperangan.

Era Tabiut Tabiin (Masa Keemasan)

Puncaknya terjadi pada Abad ke-3 Hijriah, yang kita kenal sebagai masa keemasan (The Golden Age) ilmu hadis. Di masa inilah para imam besar menyusun kitab-kitab induk, seperti Imam Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah (Kutubus Sittah). Mereka rela melakukan perjalanan ribuan kilometer hanya untuk memverifikasi satu hadis.

Istilah Populer dalam Ilmu Hadis

Istilah-Istilah dalam Hadis yang Perlu Kamu Ketahui

Agar Anda lebih mudah memahami kitab-kitab agama, berikut beberapa istilah yang sering muncul dalam literatur Islam:

  • Muttafaq Alaih: Dua imam besar, yaitu Bukhari dan Muslim, menyepakati kesahihan hadis ini. Ini adalah tingkatan kesahihan tertinggi.
  • As-Sab’ah (Tujuh Imam): Merujuk pada tujuh perawi utama: Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah.
  • Marfu’: Sanad hadis ini sampai kepada Nabi Muhammad SAW.
  • Mauquf: Riwayat yang hanya sampai kepada Sahabat Nabi (perkataan sahabat), tidak sampai ke Nabi.
  • Maqthu’: Riwayat yang hanya sampai kepada Tabiin.

Kesimpulannya, memahami ilmu hadis adalah kunci untuk beragama dengan cerdas dan benar. Jika Anda ingin memperdalam wawasan tentang sumber hukum Islam ini, Anda bisa memiliki Kitab Bulughul Maram terbitan Gema Risalah yang memuat kumpulan hadis hukum praktis. Kami adalah percetakan Alquran dan buku Islam yang berkomitmen menyediakan literatur berkualitas untuk umat. Mari lengkapi koleksi perpustakaan Anda dengan buku-buku yang mencerahkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *