Wawasan Al-Qur'an

Sejarah dan Tujuan diadakannya Kompetisi MTQ di Indonesia

Pertama-tama, di tengah gemerlap perkembangan zaman, syiar Islam di Indonesia terus bersinar melalui berbagai tradisi yang mengakar kuat. Tentu saja, salah satu bentuk syiar yang paling fenomenal dan masyarakat nanti-nantikan adalah Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Faktanya, acara ini bukan sekadar festival atau lomba semata. Lebih dari itu, MTQ merupakan manifestasi kecintaan umat Islam terhadap kitab sucinya. Selanjutnya, pemerintah dan panitia menyelenggarakan MTQ secara berjenjang, mulai dari tingkat desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga level nasional dan internasional.

Namun, tahukah Anda bagaimana sejarah panjang perhelatan akbar ini bermula di tanah air? Selain itu, apa saja kategori yang sebenarnya panitia lombakan selain membaca Al-Qur’an? Pada dasarnya, artikel ini akan mengupas tuntas definisi, sejarah perkembangan, jenis perlombaan, hingga jejak para juara Qari dan Qariah yang telah mengharumkan nama bangsa. Dengan demikian, kita berharap umat Islam dapat semakin mencintai Al-Qur’an dan mendukung pelestarian nilai-nilainya.

Definisi dan Hakikat Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ)

Musabaqah Tilawatil Quran

Adapun secara bahasa, Musabaqah memiliki arti perlombaan, kompetisi, atau festival. Di sisi lain, Tilawatil Quran bermakna pembacaan Al-Qur’an dengan bacaan yang baik dan indah. Jadi, secara istilah, Musabaqah Tilawatil Quran adalah bidang lomba membaca Al-Qur’an dengan menggunakan bacaan mujawwad (bacaan yang mengandung nilai seni). Tak hanya itu, dalam ajang ini, juri tidak hanya menuntut peserta membaca dengan benar sesuai kaidah ilmu tajwid. Akan tetapi, peserta juga harus memperhatikan keindahan suara, lagu, dan adab membaca.

Perlu diketahui, Pemerintah Indonesia menggelar kegiatan ini secara rutin dan terstruktur. Tujuannya bukan semata-mata mencari juara. Sebaliknya, tujuan utamanya adalah untuk membumikan Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup (way of life). Pasalnya, melalui MTQ, syiar Islam bergema ke seluruh penjuru negeri, sekaligus mengingatkan umat akan keagungan wahyu Allah SWT.

Sejarah Panjang MTQ di Indonesia Sejak 1940

Sejarah Musabaqah Tilawatil Quran

Tercatat, perjalanan MTQ di Indonesia memiliki akar sejarah yang panjang. Awalnya, cikal bakalnya bermula sejak tahun 1940, dengan berdirinya Jami’ayyatul Qurro wal Huffadz oleh Nahdlatul Ulama (NU), salah satu ormas Islam terbesar di Indonesia. Organisasi ini menjadi wadah bagi para penghafal dan pembaca Al-Qur’an untuk mengembangkan kemampuannya.

Selanjutnya, tonggak sejarah resmi MTQ tingkat nasional bermula pada tahun 1968. Saat itu, Menteri Agama K.H. Muhammad Dahlan memprakarsai MTQ Nasional pertama. Kota Makassar, Sulawesi Selatan, menjadi tuan rumah perhelatan akbar ini, tepat pada bulan suci Ramadhan. Momentum ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat.

Kemudian, setahun berikutnya pada tahun 1969, Banjarmasin menggelar MTQ Nasional kedua. Kemeriahan terus berlanjut hingga ibukota Jakarta mengadakan MTQ pada tahun-tahun berikutnya. Seiring berjalannya waktu, pemerintah membentuk Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) pada tahun 1977. Lembaga ini bertugas menstandarisasi dan memayungi kegiatan ini secara profesional.

Hingga saat ini, panitia telah melaksanakan MTQ puluhan kali dan berpindah-pindah dari satu provinsi ke provinsi lain. Hal ini menunjukkan semangat pemerataan syiar Islam. Terbaru, Samarinda, Kalimantan Timur sukses menggelar MTQ Nasional XXX (ke-30) pada tahun 2024. Hal ini menandakan eksistensi acara ini tetap kokoh di era digital.

Jejak Juara: Qari dan Qariah Terbaik Nasional

Sudah pasti, perhelatan MTQ telah melahirkan banyak tokoh legendaris. Suara emas mereka tidak hanya menyejukkan hati masyarakat Indonesia. Bahkan, mereka seringkali mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Berikut adalah kilas balik para juara dari masa ke masa:

Legenda Qari (Pria) Terbaik

  • Era Perintis (1960-an): H. Abdul Syahdi (Jabar, 1968) dan Abdul Hakim Muslim (Jateng, 1969) tampil sebagai para pembuka gerbang sejarah.
  • Era Emas (1970-1980-an): Muncul nama-nama besar seperti H. Muammar Z.A (DKI Jakarta, 1981). Hingga kini, masjid-masjid masih sering memutar rekaman suaranya. Ada pula Nanang Qosyim Z.A (Sulut, 1979) dan H. Rafles (Sumbar, 1984).
  • Era Modern (2000-an ke atas): Generasi baru terus lahir, seperti H. Darwin Hasibuan (Sumut, 2008), H. Harmoko (DKI Jakarta, 2012), hingga Ihsan Nuzula (Sumbar, 2016).

Legenda Qariah (Wanita) Terbaik

  • Era Awal: Marwiyah Rafe’i (Sumsel, 1968) mencatatkan diri sebagai juara wanita pertama. Kemudian Hj. Nursiah Ismail (Kalbar, 1974 & 1976) menyusul dan mendominasi di eranya.
  • Era 1980-1990-an: Hj. Maria Ulfah menjadi inspirasi bagi banyak orang, diikuti oleh Hj. Fatmawati Kasim (Sulteng, 1985) dan Wildayati Nusril (Sumbar, 1997).
  • Era Milenial: Muncul nama-nama seperti Rahmawati Hunawa (DKI Jakarta, 2012) dan Wardatun Nisa Hasan (Papua Barat, 2018). Mereka membuktikan bahwa mutiara Al-Qur’an tersebar hingga ke ujung timur Indonesia.

Ragam Cabang Lomba dalam MTQ

Cabang lomba MTQ

Seringkali, banyak orang mengira MTQ hanya berisi lomba membaca dengan lagu. Padahal, seiring perkembangan zaman, panitia memvariasikan cabang lomba untuk mengakomodasi berbagai potensi umat. Berikut adalah cabang-cabang utama yang ada dalam kompetisi:

1. Cabang Tilawah (Seni Baca Al-Qur’an)

Ini adalah cabang primadona. Juri memfokuskan penilaian pada tajwid, fasahah (kefasihan), dan lagu/suara. Cabang ini terdiri dari golongan Tartil (anak-anak), Tilawah Anak-anak, Remaja, Dewasa, hingga Qiraat Sab’ah (tujuh macam bacaan).

2. Cabang Hifzhil Qur’an (Hafalan)

Peserta mengikuti lomba menghafal Al-Qur’an untuk menguji ketepatan hafalan dan kelancaran. Kategorinya mulai dari 1 juz, 5 juz, 10 juz, 20 juz, hingga 30 juz. Bagi para penghafal, menggunakan Al-Qur’an hafalan khusus tentu sangat membantu dalam proses murajaah.

3. Cabang Tafsir Al-Qur’an

Peserta tidak hanya menghafal 30 juz. Mereka juga harus mampu menjelaskan makna dan tafsirnya. Golongan yang panitia lombakan meliputi Tafsir Bahasa Arab, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris.

4. Cabang Fahmil Qur’an (Cerdas Cermat)

Lomba beregu ini menguji pemahaman konten Al-Qur’an secara luas, hadits, sejarah Islam, hingga fiqih. Hal ini menuntut kecepatan berpikir dan kekompakan tim.

5. Cabang Syarhil Qur’an (Pidato)

Lomba beregu ini menampilkan perpaduan antara pembacaan ayat (tilawah), puitisasi (sari tilawah), dan uraian isi kandungan ayat (pidato). Cabang ini sangat menarik karena menyentuh isu-isu sosial kemasyarakatan.

6. Cabang Khat (Kaligrafi)

Peserta menampilkan seni menulis indah ayat Al-Qur’an. Golongannya meliputi Naskah (penulisan baku), Hiasan Mushaf (iluminasi), Dekorasi (untuk dinding masjid), dan Kaligrafi Kontemporer (lukisan).

7. Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ)

Cabang ini menuntut peserta untuk menulis makalah ilmiah. Mereka harus menggali solusi permasalahan umat berdasarkan perspektif Al-Qur’an. Ini menjadi wadah bagi intelektual muda Islam.

Tujuan Mulia dan Manfaat MTQ bagi Umat

Tujuan MTQ

Tentunya, penyelenggaraan MTQ yang menelan biaya besar memiliki tujuan yang agung. Pemerintah dan ulama sepakat menetapkan tujuan utamanya, yaitu memelihara kesucian Al-Qur’an dan meningkatkan pemahaman umat terhadapnya. Selain itu, MTQ berfungsi sebagai sarana tarbiyah (pendidikan) yang efektif untuk memberantas buta aksara Al-Qur’an.

Tak hanya itu, MTQ juga berperan sebagai perekat Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam). Pertemuan para kafilah dari Sabang sampai Merauke di satu arena menciptakan rasa persatuan yang kuat. Kita menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai spirit pembangunan nasional. Oleh sebab itu, kita berharap nilai-nilai kejujuran, sportivitas, dan keindahan yang MTQ ajarkan dapat terimplementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Hikmah dan Intisari Pembahasan

Sebagai kesimpulan, Musabaqah Tilawatil Quran merupakan aset budaya dan agama yang sangat berharga bagi Indonesia. Pasalnya, ia bukan sekadar ajang pamer suara. Sebaliknya, acara ini menjadi momentum evaluasi diri: sejauh mana interaksi kita dengan kitab suci? Semangat MTQ harusnya tidak padam saat panitia membongkar panggung, melainkan terus menyala di rumah-rumah kita melalui tadarus dan kajian rutin.

Akhirnya, untuk mendukung semangat membumikan Al-Qur’an, memiliki fasilitas ibadah yang layak adalah sebuah keharusan. Baik untuk keperluan pribadi, wakaf ke pondok pesantren, maupun hadiah bagi sanak saudara, Mushaf Al-Qur’an berkualitas dari Gemarisalah siap menjadi sahabat setia Anda dalam menyelami samudra ilmu-Nya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *