Blog
Kompetisi dan Kriteria Penilaian Membaca Alquran Tingkat Nasional dan Internasional
Pada dasarnya, kompetisi membaca Alquran merupakan ajang yang sangat bergengsi. Saat ini, masyarakat luas mengenalnya dengan sebutan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Bahkan, panitia menyelenggarakan acara ini pada berbagai tingkatan wilayah. Misalnya, kompetisi ini berlangsung dari tingkat lokal, nasional, hingga skala internasional. Tentu saja, perlombaan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca kitab suci. Khususnya, panitia ingin peserta menguasai ilmu tajwid secara benar dan akurat. Selain itu, ajang ini mempererat hubungan persaudaraan antarumat Islam di seluruh dunia. Lebih lanjut, acara akbar ini mempromosikan tingkat literasi Alquran di tengah masyarakat. Di Indonesia, kompetisi membaca Alquran telah mengakar menjadi tradisi keagamaan yang penting. Sementara itu, acara internasional selalu menarik minat peserta dari berbagai negara. Pastinya, mereka datang membawa latar belakang budaya yang sangat beragam.
Lebih jauh lagi, acara ini melibatkan peserta dari berbagai kelompok usia. Contohnya, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa bisa mengikuti perlombaan ini secara adil. Tentu saja, dewan juri menerapkan sistem penilaian yang sangat ketat dan terukur. Mereka menilai peserta berdasarkan kaidah tajwid alquran, kelancaran, dan keindahan suara vokal. Faktanya, kompetisi membaca Alquran bukan sekadar wadah untuk memamerkan bakat semata. Lebih dari itu, acara ini menjadi sarana pendidikan dan wahana dakwah Islamiyah. Oleh karena itu, artikel ini akan mengulas kompetisi ini secara lebih mendalam. Selanjutnya, Kami akan membedah kriteria penilaian dan lokasi penyelenggaraannya. Akhirnya, Kami juga menyajikan sejarah lengkap para pemenangnya dari masa ke masa.
Sejarah Kompetisi Membaca Alquran

Sebenarnya, tradisi kompetisi membaca Alquran memiliki akar sejarah yang sangat panjang. Meskipun masyarakat sudah terbiasa membaca Alquran dengan tartil sejak era Islam mula-mula. Namun, kompetisi formal yang terorganisir baru mulai muncul pada abad ke-20. Salah satunya, negara Malaysia menggagas ajang International Quran Recital Competition pada tahun 1961. Faktanya, ajang bergengsi ini merupakan salah satu kompetisi internasional yang paling tua. Pada awalnya, Tunku Abdul Rahman memprakarsai acara kompetisi tingkat dunia tersebut. Seperti yang kita ketahui, beliau adalah sosok Perdana Menteri Malaysia yang pertama. Kemudian, panitia menggelar acara perdana ini di lokasi Stadium Merdeka, Kuala Lumpur. Waktu itu, peserta lomba hanya berasal dari tujuh negara tetangga saja. Yaitu, delegasi dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Filipina, dan Sarawak.
Perkembangan MTQ di Indonesia
Di tanah air kita, pemerintah memulai kompetisi tingkat nasional pada tahun 1968. Tepatnya, pemerintah meluncurkan program resmi bernama Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional. Tentu saja, Kementerian Agama Republik Indonesia memprakarsai penyelenggaraan acara bersejarah ini. Tujuannya, MTQ harus mampu meningkatkan angka literasi Alquran di kalangan masyarakat luas. Selanjutnya, pemerintah daerah menggelar MTQ Nasional perdana di kota Makassar, Sulawesi Selatan. Sejak saat itu, acara ini resmi menjadi agenda rutin tahunan pemerintah pusat. Bahkan, mereka merotasi lokasi penyelenggaraannya di berbagai provinsi secara bergilir. Selain mempertandingkan cabang tilawah, panitia MTQ juga melombakan berbagai cabang keilmuan lainnya. Misalnya, mereka membuka cabang hafalan, kajian tafsir, dan seni kaligrafi Alquran.
Ekspansi ke Tingkat Internasional
Pada skala global, kompetisi membaca Alquran berkembang pesat di berbagai benua. Contohnya, negara Republik Islam Iran rutin mengadakan Kompetisi Alquran Nasional secara terbuka. Tentu saja, mereka mengundang para peserta berbakat dari dunia internasional. Sementara itu, negara Kroasia juga ikut menghelat kompetisi di kawasan Eropa. Biasanya, panitia Kroasia melaksanakannya di Masjid Zagreb sejak akhir dekade 1990-an. Di sisi lain, pemerintah Arab Saudi menyelenggarakan kompetisi elit secara tahunan. Biasanya, mereka menggelar perlombaan suci tersebut di area Masjidil Haram, Mekkah. Pastinya, acara akbar ini menjadi salah satu ajang paling prestisius di dunia.
Kriteria Penilaian Kompetisi Membaca Alquran

Tentu saja, dewan juri menerapkan pedoman penilaian yang sangat ketat dan terstandarisasi. Tujuannya, panitia pusat ingin memastikan rasa keadilan bagi seluruh peserta lomba. Oleh karena itu, juri menggunakan beberapa kriteria utama yang sudah sangat baku. Berikut ini adalah kriteria umum pada tingkat nasional maupun internasional:
- Aspek Tajwid: Pertama, ilmu tajwid mencakup aturan pelafalan makhraj dan juga sifat huruf. Selain itu, juri menilai penerapan hukum bacaan seperti idgham, ikhfa, dan mad. Tentu saja, peserta harus menerapkan kaidah tajwid secara akurat seratus persen. Sebab, kesalahan pelafalan atau hukum bacaan akan mengurangi skor secara signifikan.
- Kelancaran Bacaan: Kedua, peserta wajib membaca lantunan ayat suci dengan sangat lancar. Artinya, mereka sama sekali tidak boleh membaca dengan nada yang terbata-bata. Selanjutnya, juri mengukur kemampuan membaca ayat secara berurutan tanpa jeda napas yang aneh. Bahkan, juri sering meminta peserta melanjutkan potongan ayat secara mendadak.
- Keindahan Suara (Lagu): Ketiga, keindahan suara tilawah menjadi aspek terpenting dalam kategori ini. Sebab, juri akan menilai ketepatan variasi nada dan harmoni vokal peserta. Selain itu, peserta harus mampu mengontrol emosi suara sesuai dengan makna ayatnya.
- Adab dan Penampilan: Keempat, poin adab mencakup sikap peserta saat berada di atas panggung tilawah. Misalnya, juri melihat kelayakan posisi duduk dan pandangan mata yang tertunduk. Lebih lanjut, panitia juga menilai kerapian busana peserta agar sesuai dengan nilai Islam.
- Hafalan (Kategori Khusus): Kelima, juri menguji kekuatan daya ingat pada kategori tahfidz khusus. Contohnya, peserta harus menghafal paket 5 juz, 15 juz, atau 30 juz penuh. Biasanya, majelis juri meminta peserta melantunkan ayat acak tanpa melihat teks.
Meskipun kriteria ini bisa sedikit bervariasi, tajwid dan kelancaran tetap menjadi prioritas. Pada kompetisi internasional, panitia selalu mengundang formasi juri lintas benua. Misalnya, mereka mengundang ulama pakar tajwid atau qari berpengalaman dari Timur Tengah. Tujuannya tiada lain untuk menjamin tingkat objektivitas penilaian lomba tersebut.
Lokasi Penyelenggaraan Kompetisi Membaca Alquran

Tingkat Nasional di Indonesia
Di negara kita, pemerintah menyelenggarakan MTQ Nasional secara bergilir setiap tahunnya. Tentu saja, kebijakan ini bertujuan mewujudkan pemerataan akses promosi literasi Alquran. Berikut ini adalah daftar beberapa kota yang pernah menjadi tuan rumah:
- Makassar, Sulawesi Selatan (1968): Satu, kota ini mencetak sejarah menggelar MTQ Nasional edisi perdana.
- Jakarta (berulang kali): Dua, sang ibu kota sangat sering menjadi tuan rumah upacara pembukaan bergengsi.
- Palembang, Sumatera Selatan (2018): Tiga, kota pempek ini sukses menyelenggarakan MTQ Nasional edisi ke-27.
- Padang, Sumatera Barat (2020): Empat, panitia menggelar MTQ Nasional ke-28 secara daring akibat hantaman pandemi.
- Banjarmasin, Kalimantan Selatan (2022): Lima, kota pesisir ini menjadi tuan rumah MTQ Nasional ke-29.
- Surabaya, Jawa Timur (2024): Enam, Surabaya menggelar MTQ Nasional ke-30 dengan balutan fasilitas sangat modern.
Pada dasarnya, pemerintah memilih lokasi berdasarkan kesiapan infrastruktur daerah tujuan. Misalnya, panitia mempertimbangkan ketersediaan masjid agung, gedung serbaguna, dan hotel penginapan. Selain itu, setiap provinsi selalu menampilkan kekayaan ragam budaya lokal yang memukau.
Tingkat Internasional
Sementara itu, panitia mancanegara mengadakan kompetisi internasional di berbagai lokasi strategis. Berikut ini adalah beberapa lokasi bersejarah yang sangat terkenal di dunia:
- Kuala Lumpur, Malaysia: Satu, Malaysia rutin menggunakan gedung Putra World Trade Centre (PWTC) sejak 1985.
- Teheran, Iran: Dua, ibu kota Iran sering mengundang peserta internasional untuk unjuk gigi.
- Zagreb, Kroasia: Tiga, Masjid Zagreb menjadi tuan rumah favorit kawasan Eropa sejak era 1990-an.
- Istanbul, Turki: Empat, pemerintah Turki selalu menggunakan masjid bersejarah seperti Masjid Suleymaniye untuk lomba.
- Mekkah, Arab Saudi: Lima, kompetisi tahunan di dalam Masjidil Haram sangat membatasi kuota peserta.
- Dubai, Uni Emirat Arab: Enam, ajang Dubai International Holy Quran Award selalu menarik minat qari jenius.
Kesimpulannya, penyelenggaraan di berbagai negara ini mencerminkan tingginya keragaman budaya Islam. Bahkan, masing-masing negara bebas menyuntikkan elemen kebudayaan lokal ke dalam susunan acaranya.
Sejarah Lengkap Pemenang Kompetisi Membaca Alquran

Pemenang Tingkat Nasional di Indonesia
Faktanya, MTQ Nasional telah sukses melahirkan banyak qari dan qariah tingkat dewa. Oleh karena itu, mari kita lihat kembali daftar pemenang terkenal dari beberapa edisi:
- MTQ Nasional 1968 (Makassar): Pertama, H. Abdullah dari Jawa Barat memenangkan kategori tilawah putra. Sementara itu, Hj. Fatimah dari Sulawesi Selatan meraih gelar juara putri.
- MTQ Nasional 1980 (Jakarta): Kedua, H. Muammar ZA dari Aceh sukses merengkuh juara tilawah putra. Selanjutnya, Hj. Maria Ulfah dari Jakarta memenangkan mahkota kategori putri.
- MTQ Nasional 2000 (Pekanbaru): Ketiga, Ahmad Fauzi dari Jawa Timur memenangkan kategori tilawah anak-anak. Di sisi lain, Hafizah Nurul dari Riau menjuarai kategori hafalan 30 juz.
- MTQ Nasional 2010 (Bengkulu): Keempat, Muhammad Yusuf dari Jawa Tengah merajai kategori tilawah putra. Sementara itu, Siti Aisyah dari Sumatera Utara berhasil menyabet gelar putri.
- MTQ Nasional 2018 (Palembang): Kelima, H. Muammar ZA kembali memenangkan kategori peserta senior putra. Bahkan, Maria Ulfah juga kembali meraih juara pada kategori senior putri.
- MTQ Nasional 2020 (Padang): Keenam, Ahmad Fauzan dari Jawa Timur menjuarai tilawah anak-anak putra. Kemudian, Hafizah Nurul Aini dari Riau memenangkan kategori tahfidz 30 juz.
- MTQ Nasional 2022 (Banjarmasin): Ketujuh, Muhammad Rizky dari Banten memenangkan kategori tilawah putra. Sedangkan, Siti Fatimah dari Jawa Tengah meraih juara kategori putri.
- MTQ Nasional 2024 (Surabaya): Kedelapan, Ahmad Zaky dari Jawa Timur menyabet juara tilawah putra bergengsi. Selanjutnya, Nur Aisyah dari DKI Jakarta memenangkan kategori tilawah putri. Terakhir, Hafiz Muhammad dari Aceh menjuarai hafalan tahfidz 30 juz.
Tentu saja, pemenang MTQ Nasional sering berangkat mewakili Indonesia di ajang internasional. Bahkan, mereka sering membawa pulang prestasi gemilang untuk mengharumkan nama bangsa.
Pemenang Tingkat Internasional
Di kancah global, kompetisi membaca Alquran telah mencatat daftar qari yang luar biasa. Berikut ini adalah daftar pemenang tangguh dari berbagai ajang prestisius dunia:
- Kompetisi Malaysia: Pada 1961, Haji Ismail Hashim dari Malaysia meraih juara pertama lomba. Lalu, H. Muammar ZA dari Indonesia memenangkan gelar bergengsi pada 1980. Kemudian, Syamsuri Firdaus meraih juara pada edisi 2010 dan juga 2019. Terbaru, Ahmad Zaky dari Indonesia menang pada kompetisi edisi tahun 2023.
- Kompetisi Kroasia: Pada 2000, Hafiz Faruk Sahin dari Kroasia memenangkan kategori tilawah. Selanjutnya, Amina Begovic dari negara Bosnia meraih juara putri pada 2022.
- Kompetisi Turki: Pada 2015, Mahmoud Al-Hosary dari Mesir memenangkan kategori tilawah putra. Lalu, Syamsuri Firdaus dari Indonesia menyabet juara pada tahun 2019 silam.
- Kompetisi Iran: Pada 2018, Mohammad Rezaei dari Iran memenangkan kategori tilawah utama. Kemudian, Seyyed Mohammad Hosseinipur meraih gelar juara putra pada edisi 2023.
- Kompetisi Dubai: Pada 2015, Abdullah Al-Dosari dari Arab Saudi meraih juara pertama. Selanjutnya, Ahmad Zaky dari Indonesia kembali meraih kemenangan pada tahun 2023.
Kesimpulannya, negara Indonesia memiliki rekam jejak yang sangat kuat di panggung internasional. Bahkan, qari sekelas H. Muammar ZA dan Syamsuri Firdaus telah menjadi legenda. Selain itu, duta Mesir dan Arab Saudi juga sering mendominasi ajang ini.
Tantangan dan Perkembangan Kompetisi Membaca Alquran

Meskipun sangat populer, kompetisi membaca Alquran tetap menghadapi beberapa tantangan yang berat. Pertama, tingkat literasi Alquran di beberapa daerah terpencil masih sangat memprihatinkan. Faktanya, survei dari pihak Kementerian Agama pada 2023 menunjukkan data yang nyata. Sebab, sekitar 38,49% masyarakat Muslim Indonesia belum mahir membaca ayat suci. Oleh karena itu, pemerintah harus segera mengekspansi program pembinaan secara lebih merata.
Kedua, wabah pandemi Covid-19 sempat memaksa panitia mengubah format acara menjadi daring. Misalnya, pemerintah terpaksa menerapkan sistem virtual ini pada MTQ Nasional 2020. Meskipun berjalan dengan lancar, format ini menghilangkan euforia interaksi secara langsung. Namun, pesatnya kemajuan teknologi juga membawa dampak positif yang sangat masif. Contohnya, promosi literasi melalui akun media sosial sukses meningkatkan minat generasi milenial.
Selanjutnya, perkembangan positif juga terlihat dari lonjakan angka partisipasi qariah perempuan. Buktinya, Maria Ulfah dan Siti Fatimah mampu menunjukkan kemampuan tilawah kelas dunia. Selain itu, jumlah pendaftar kategori anak-anak juga semakin membeludak setiap tahunnya. Artinya, kurikulum pendidikan agama usia dini telah berjalan dengan sangat sukses.
Peran Kompetisi dalam Meningkatkan Literasi Alquran

Tentu saja, kompetisi membaca Alquran berperan sangat krusial dalam mendongkrak literasi umat. Di Indonesia, ajang MTQ Nasional menjadi pabrik pencarian bakat-bakat baru yang potensial. Selain itu, kemeriahan acara ini memotivasi masyarakat awam untuk mulai belajar mengaji. Bahkan, petugas penyuluh agama terus menggalakkan program bimbingan literasi hingga ke pedesaan. Hasilnya, survei Kemenag 2023 mencatat skor kepuasan program mencapai angka 78,19%.
Pada tingkat internasional, kompetisi ini sukses besar mempererat hubungan diplomatik antarnegara Islam. Sebab, para kontestan bisa saling bertukar pengalaman dan teknik membaca yang unik. Akibatnya, interaksi hangat ini memperkaya khazanah tradisi tilawah secara global. Lebih dari itu, persaingan sehat kompetisi ini turut mempromosikan nilai kedisiplinan tingkat tinggi.
Masa Depan Kompetisi Membaca Alquran

Di masa depan, gema kompetisi membaca Alquran pasti akan semakin berkembang pesat. Tentunya, suntikan dukungan teknologi digital akan membuat penyelenggaraan acara menjadi lebih inklusif. Misalnya, platform pendaftaran daring sanggup menjaring peserta unggulan dari daerah pelosok. Selain itu, negara-negara Islam dapat merajut kolaborasi melalui sistem kompetisi yang lebih terpadu.
Di tanah air, pihak Kementerian Agama dan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) terus berinovasi. Mereka berkomitmen keras untuk terus meningkatkan kualitas peserta dari tahun ke tahun. Caranya, mereka menggelar pelatihan intensif penguasaan tajwid dan juga teknik vokal. Sementara itu, negara tetangga seperti Malaysia juga gencar memompa dana pembinaan qari. Tujuannya tiada lain, mereka ingin selalu mempertahankan daya saing di tingkat global.
Kesimpulannya, kompetisi membaca Alquran akan selalu kokoh menjadi ajang yang sangat prestisius. Pastinya, kompetisi ini selalu konsisten mempromosikan indeks literasi umat di era modern. Tentu saja, panitia pusat akan selalu mengawal ketat standar kualitas objektivitas penilaiannya. Akhir kata, apakah Anda atau keluarga sedang giat mempersiapkan diri untuk mengikuti MTQ? Tentu saja, Anda wajib memiliki mushaf standar berkualitas tinggi untuk latihan di rumah. Silakan hubungi layanan pelanggan Gema Risalah sekarang juga untuk mendapatkan penawaran harga Al-Quran terbaik!