Blog
Memaknai Sejarah dan Pengertian Nuzulul Quran
Bagi umat Islam, istilah Nuzulul Quran tentu sudah tidak asing lagi di telinga. Setiap bulan Ramadhan, kita sering memperingatinya dengan berbagai acara pengajian dan syukuran. Namun, apakah kita benar-benar memahami makna sejarah di baliknya? Nuzulul Quran bukan sekadar seremonial, melainkan tonggak awal perubahan peradaban manusia dari kegelapan (jahiliyah) menuju cahaya Islam. Di dalamnya terdapat keistimewaan luar biasa yang bisa didapatkan oleh umat Islam yang mau merenunginya. Lalu, bagaimana sebenarnya kronologi peristiwa agung ini dan apa bedanya dengan Lailatul Qadar?
Peristiwa ini menandai saat pertama kali Allah SWT menurunkan firman-Nya kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara Malaikat Jibril. Momen ini menjadi bukti cinta Allah kepada hamba-Nya dengan memberikan pedoman hidup yang sempurna. Mari kita telusuri kembali jejak sejarah di Gua Hira yang menggetarkan tersebut.
Kapan Sebenarnya Terjadinya Nuzulul Quran?

Secara bahasa, Nuzulul Quran berarti “Turunnya Al-Qur’an”. Para sejarawan Islam mencatat bahwa peristiwa ini terjadi pada tahun 610 Masehi, saat Nabi Muhammad SAW berusia 40 tahun. Beliau menerima wahyu pertamanya di Gua Hira, sebuah gua sempit yang terletak di Jabal Nur, sekitar 6 km dari kota Mekkah.
Mengenai tanggal pastinya, terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Namun, pendapat yang paling masyhur dan kita peringati di Indonesia adalah pada malam 17 Ramadhan. Hal ini merujuk pada tafsir Surah Al-Anfal ayat 41 yang mengaitkan turunnya Al-Qur’an dengan Yaumul Furqan (Hari Pembeda), yang bertepatan dengan terjadinya Perang Badar pada tanggal 17 Ramadhan. Momen ini menjadi titik balik sejarah di mana kebenaran mulai Allah pisahkan secara tegas dari kebatilan.
Detik-Detik Bersejarah di Gua Hira

Sejarah Nuzulul Quran bermula dari kegelisahan hati Nabi Muhammad SAW. Beliau merasa prihatin melihat kondisi masyarakat Arab kala itu yang berada dalam masa jahiliyah. Ketidakadilan merajalela, yang kuat menindas yang lemah, bayi perempuan dikubur hidup-hidup, dan penyembahan berhala menjadi pemandangan sehari-hari. Karena tidak tahan dengan kebobrokan moral tersebut, Nabi Muhammad memilih untuk melakukan tahannuts (menyendiri untuk beribadah) di Gua Hira.
Di tengah keheningan malam Ramadhan itulah, Malaikat Jibril AS menampakkan diri dalam wujud aslinya yang agung. Jibril memeluk Nabi dengan sangat erat hingga beliau merasa sesak, lalu melepaskannya seraya berkata, “Iqra!” (Bacalah!). Nabi yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis) menjawab dengan gemetar, “Ma ana bi qari” (Aku tidak bisa membaca).
Peristiwa ini berulang hingga tiga kali. Akhirnya, Jibril membimbing Nabi mengucapkan lima ayat pertama dari Surah Al-Alaq: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Mulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” Inilah wahyu pertama yang menandai diangkatnya Muhammad SAW sebagai Rasulullah.
Memahami Perbedaan Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar

Seringkali umat Islam bingung membedakan antara Nuzulul Quran (17 Ramadhan) dengan Lailatul Qadar (10 malam terakhir). Padahal, keduanya adalah rangkaian peristiwa turunnya Al-Qur’an yang saling berkaitan namun berbeda fase. Para ulama menjelaskan proses penurunan Al-Qur’an dalam tiga tahapan:
- Tahap 1 (Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah): Al-Qur’an turun secara utuh (30 juz) sekaligus dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah (langit dunia). Peristiwa inilah yang terjadi pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Qadr: 1, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.”
- Tahap 2 (Baitul Izzah ke Bumi): Dari langit dunia, Malaikat Jibril menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur (bertahap) selama kurang lebih 23 tahun. Wahyu pertama (Surah Al-Alaq 1-5) yang turun di Gua Hira inilah yang kita peringati sebagai Nuzulul Quran pada tanggal 17 Ramadhan.
Jadi, Lailatul Qadar adalah momen pelantikan Al-Qur’an di langit, sedangkan Nuzulul Quran adalah momen sampainya wahyu pertama ke bumi. Keduanya adalah malam yang sangat mulia.
Hikmah Besar di Balik Peristiwa Nuzulul Quran

Mengapa Allah menurunkan Al-Qur’an secara bertahap dan tidak sekaligus? Di sinilah letak kebijaksanaan Allah. Proses turunnya Al-Qur’an selama 22 tahun, 2 bulan, dan 22 hari memiliki hikmah strategis:
1. Menguatkan Hati Rasulullah SAW
Dalam berdakwah, Rasulullah banyak mendapatkan pertentangan, cemoohan, hingga ancaman fisik dari kaum Quraisy. Turunnya wahyu secara berkala berfungsi sebagai “penghibur” dan penguat hati Nabi. Allah menjawab setiap tuduhan dan kesulitan yang Nabi hadapi secara real-time melalui ayat-ayat-Nya.
2. Memudahkan Umat Menghafal dan Mengamalkan
Bangsa Arab dikenal dengan kekuatan hafalannya, namun mereka buta huruf. Jika Al-Qur’an turun sekaligus 30 juz, tentu mereka akan kesulitan menghafal dan memahami hukum-hukumnya. Dengan turun bertahap, para sahabat bisa langsung menghafal dan mempraktikkan ayat tersebut sebelum turun ayat berikutnya.
3. Jawaban Solutif atas Problematika Umat
Banyak ayat Al-Qur’an turun sebagai respon atas pertanyaan sahabat atau kejadian tertentu (Asbabun Nuzul). Hal ini mengajarkan kita bahwa Al-Qur’an adalah solusi hidup yang aplikatif, bukan sekadar teori langit yang tidak membumi.
4. Pentingnya Ilmu (Iqra)
Wahyu pertama adalah perintah “Membaca”. Ini menegaskan bahwa fondasi peradaban Islam adalah ilmu pengetahuan. Islam tidak akan tegak tanpa literasi. Membaca di sini bukan hanya teks, tetapi juga membaca tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta (ayat kauniyah).
Amalan Terbaik Mengisi Malam Nuzulul Quran

Malam 17 Ramadhan adalah momentum emas untuk mendekatkan diri kepada Allah. Berikut adalah amalan-amalan yang sangat dianjurkan oleh para ulama:
- Tadarus dan Tadabbur Al-Qur’an: Ini adalah menu wajib. Jangan hanya membaca (tilawah), tetapi cobalah untuk membaca terjemahan dan tafsirnya. Gunakanlah Al-Qur’an terjemah per kata untuk membantu Anda memahami makna setiap kosakata Arabnya.
- I’tikaf di Masjid: Luangkan waktu untuk berdiam diri di masjid dengan niat ibadah. Jauhkan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan gadget. Fokuslah berdzikir, shalat sunnah, dan bermunajat.
- Shalat Malam (Qiyamul Lail): Hidupkan malam Nuzulul Quran dengan shalat Tarawih, Tahajud, dan Witir. Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa mendirikan shalat pada bulan Ramadhan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari).
Semoga dengan memahami sejarah dan makna Nuzulul Quran, kita bisa semakin mencintai kitab suci ini. Jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat setia yang tidak hanya kita baca saat Ramadhan, tetapi setiap hari sepanjang hayat.
Bagi Anda yang ingin memperdalam interaksi dengan Al-Qur’an, Gema Risalah siap memfasilitasi kebutuhan Anda. Kami menyediakan berbagai jenis mushaf yang cocok untuk pemula hingga penghafal. Dapatkan mushaf terbaik di percetakan Alquran terpercaya kami, baik untuk penggunaan pribadi maupun wakaf.