Blog
Panduan Lengkap Persiapan Aqiqah Sesuai Sunnah Rasulullah SAW
Kelahiran seorang anak adalah anugerah terindah dan amanah agung yang Allah SWT titipkan kepada para orang tua. Di antara berbagai cara untuk mensyukuri nikmat ini, Islam mensyariatkan sebuah amalan mulia yang disebut aqiqah. Lebih dari sekadar tradisi, aqiqah merupakan bentuk ibadah, ungkapan rasa syukur, sekaligus tebusan bagi sang anak, sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Melaksanakan prosesi ini tentunya membutuhkan pemahaman yang benar agar setiap langkah yang dijalankan tidak hanya meriah, tetapi juga sah dan bernilai pahala di sisi Allah. Oleh karena itu, melakukan persiapan aqiqah sesuai sunnah menjadi sebuah keharusan bagi setiap keluarga Muslim yang ingin menyempurnakan kebahagiaan mereka dengan cara yang paling berkah.
Memahami Hukum dan Waktu Pelaksanaan Aqiqah

Sebelum melangkah lebih jauh ke dalam persiapan teknis, sangat penting bagi Anda untuk memahami kedudukan hukum aqiqah dalam Islam serta waktu terbaik untuk pelaksanaannya. Pemahaman ini akan menjadi landasan niat yang lurus dalam beribadah.
Menurut pendapat mayoritas ulama, hukum melaksanakan aqiqah adalah Sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan dan hampir mendekati wajib bagi orang tua yang mampu secara finansial. Anjuran ini didasarkan pada hadis Rasulullah SAW dari Samurah bin Jundub, yang bersabda: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya pada hari ketujuh, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (HR. Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
Dari hadis tersebut, para ulama menyimpulkan bahwa waktu pelaksanaan aqiqah yang paling utama (afdhal) adalah pada hari ketujuh setelah kelahiran. Namun, Islam adalah agama yang memberikan kemudahan. Jika orang tua tidak mampu melaksanakannya pada hari ketujuh, maka boleh dilaksanakan pada hari ke-14. Jika masih belum mampu, maka pada hari ke-21. Apabila masih berhalangan juga, aqiqah boleh dilaksanakan kapan saja selama orang tua memiliki kemampuan, sebelum anak tersebut mencapai usia baligh.
Syarat dan Ketentuan Hewan Aqiqah yang Sah

Inti dari prosesi aqiqah adalah penyembelihan hewan sebagai bentuk kurban syukur. Oleh karena itu, hewan yang akan disembelih harus memenuhi syarat dan ketentuan yang telah ditetapkan dalam syariat. Secara umum, syarat hewan aqiqah serupa dengan syarat hewan untuk kurban.
1. Jumlah Hewan Aqiqah
Terdapat perbedaan jumlah hewan yang disembelih untuk anak laki-laki dan anak perempuan. Ketentuan ini didasarkan pada hadis dari Ummul Mukminin, Aisyah RA, bahwa Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk menyembelih aqiqah: “Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sepadan dan untuk anak perempuan seekor kambing.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).
- Anak Laki-laki: 2 (dua) ekor kambing atau domba.
- Anak Perempuan: 1 (satu) ekor kambing atau domba.
Dua ekor kambing untuk anak laki-laki ini dianjurkan bagi yang mampu. Namun, jika kondisi finansial tidak memungkinkan, menyembelih satu ekor pun tetap dianggap sah dan telah menggugurkan anjuran sunnah tersebut.
2. Usia Minimal Hewan
Sama seperti kurban, hewan untuk aqiqah juga memiliki batasan usia minimal agar dianggap sah. Usia ini menandakan bahwa hewan tersebut telah cukup dewasa dan layak untuk dijadikan sembelihan.
- Domba (Biri-biri): Minimal berusia 6 (enam) bulan.
- Kambing: Minimal berusia 1 (satu) tahun.
3. Kriteria Kesehatan Hewan
Hewan yang dipilih haruslah dalam kondisi sehat, prima, dan tidak memiliki cacat fisik yang dapat mengurangi kualitas dagingnya. Cacat yang dimaksud adalah cacat yang jelas terlihat dan signifikan. Kriteria hewan yang tidak sah untuk aqiqah antara lain:
- Hewan yang buta salah satu matanya secara jelas.
- Hewan yang sakit dan tampak jelas penyakitnya.
- Hewan yang pincang dan jelas kepincangannya.
- Hewan yang badannya sangat kurus hingga tidak memiliki sumsum tulang.
Memilih hewan terbaik yang Anda mampu adalah wujud kesungguhan dalam bersyukur kepada Allah SWT atas karunia yang telah diberikan.
Panduan Prosesi dan Rangkaian Acara Tasyakuran Aqiqah

Setelah hewan siap, langkah selanjutnya adalah merencanakan prosesi penyembelihan dan acara tasyakuran. Tata cara aqiqah ini mencakup beberapa rangkaian sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan.
1. Niat dan Proses Penyembelihan
Segala amal bergantung pada niatnya. Luruskan niat bahwa penyembelihan ini dilakukan semata-mata untuk beribadah dan bersyukur kepada Allah atas kelahiran sang anak. Saat menyembelih, dianjurkan untuk membaca basmalah, takbir, dan doa khusus aqiqah sambil menyebutkan nama anak yang diaqiqahi. Proses penyembelihan harus dilakukan oleh orang yang memahami syariat penyembelihan Islam.
2. Mengolah dan Mendistribusikan Daging Aqiqah
Salah satu perbedaan antara daging aqiqah dan kurban adalah anjuran dalam pengolahannya. Daging aqiqah disunnahkan untuk dimasak terlebih dahulu sebelum dibagikan. Hal ini sebagai bentuk tafa’ul (harapan baik) dan menyebarkan kebahagiaan dalam bentuk hidangan yang siap santap. Daging boleh dibagikan kepada tetangga, kerabat, fakir miskin, dan keluarga yang beraqiqah pun boleh turut memakannya.
3. Mencukur Rambut dan Bersedekah
Pada hari pelaksanaan aqiqah, disunnahkan untuk mencukur rambut bayi hingga bersih. Rambut yang telah dicukur kemudian ditimbang, dan keluarga dianjurkan untuk bersedekah perak seberat timbangan rambut tersebut. Amalan ini mengandung hikmah kebersihan dan nilai sosial yang tinggi.
4. Pemberian Nama yang Baik
Hari aqiqah juga merupakan momen yang paling utama untuk mengumumkan nama sang buah hati. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memberikan nama-nama yang baik dan memiliki makna positif, karena nama adalah doa dan akan menjadi panggilan bagi anak tersebut di dunia dan di akhirat.
5. Contoh Susunan Acara Tasyakuran Aqiqah
Mengadakan acara tasyakuran adalah cara untuk berbagi kebahagiaan dengan keluarga dan tetangga. Susunan acara tasyakuran aqiqah bisa dibuat sederhana namun tetap khidmat. Berikut adalah contoh susunannya:
- Pembukaan: Dimulai dengan pembacaan Ummul Qur’an, Surat Al-Fatihah.
- Pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an: Dipilih ayat-ayat yang berkaitan dengan anak dan rasa syukur.
- Sambutan dari Shohibul Hajat: Ucapan terima kasih dan penyampaian maksud acara.
- Prosesi Simbolis: Pencukuran rambut oleh orang tua, kakek-nenek, atau tokoh yang dihormati.
- Tausiyah/Ceramah Agama: Siraman rohani singkat tentang syukur, amanah anak, dan pendidikan Islam.
- Pembacaan Doa Aqiqah: Doa khusus untuk kebaikan sang anak.
- Ramah Tamah: Menikmati hidangan aqiqah yang telah disiapkan.
- Penutup: Diakhiri dengan pembagian souvenir dan doa kafaratul majelis.
Menyempurnakan Momen Syukur dengan Souvenir Bermanfaat

Sebagai ungkapan terima kasih kepada para tamu yang telah hadir dan mendoakan, memberikan souvenir atau kenang-kenangan adalah sebuah adab yang baik. Alih-alih memberikan barang yang kurang bermanfaat, momen aqiqah bisa menjadi sarana untuk berdakwah dengan cara yang elegan. Anda bisa memilih hadiah yang tidak hanya berkesan, tetapi juga membawa manfaat berkelanjutan bagi para tamu.
Salah satu pilihan terbaik adalah memberikan buku-buku Islami yang ringkas. Sebagai contoh, Anda dapat memberikan Buku Dzikir Pagi Petang ukuran saku. Souvenir ini sangat bermanfaat karena akan mengingatkan dan memotivasi para tamu untuk mengamalkan dzikir yang merupakan benteng bagi seorang Muslim. Selain itu, buku kisah nabi dalam format yang menarik juga bisa menjadi hadiah edukatif, terutama jika banyak tamu yang membawa anak-anak. Dengan begitu, hadiah dari acara aqiqah buah hati Anda turut menyebarkan ilmu dan kebaikan.
Merencanakan Masa Depan Anak dalam Bingkai Sunnah
Pada akhirnya, rangkaian acara ini bukan hanya selebrasi. Setiap detail dalam persiapan aqiqah sesuai sunnah, mulai dari memilih hewan, prosesi penyembelihan, hingga tasyakuran, adalah doa dan harapan orang tua bagi masa depan sang anak. Ini adalah langkah pertama orang tua dalam memperkenalkan sang anak pada syariat Islam dan menempatkannya dalam naungan keberkahan dari Allah SWT.
Lengkapi momen syukur aqiqah buah hati Anda dengan hadiah dan souvenir yang mendidik. Jelajahi koleksi buku-buku Islami pilihan dari Gema Risalah.